Membangun Budaya Kolaboratif untuk Menyukseskan Program AML Perusahaan

Penerapan program AML yang efektif membutuhkan pendekatan lintas fungsi. Bukan hanya tanggung jawab tim compliance, namun juga membutuhkan dukungan dari divisi legal, keuangan, IT, operasional, dan manajemen puncak.
Beberapa alasan utama mengapa kolaborasi sangat penting dalam AML antara lain:
- Kompleksitas Regulasi yang Terus Berkembang
Setiap negara memiliki kebijakan AML yang berbeda. OJK dan PPATK di Indonesia, misalnya, memiliki panduan yang terus diperbarui. Tanpa kolaborasi lintas divisi, perusahaan akan kesulitan menyesuaikan proses internal dengan regulasi baru. - Deteksi Dini Aktivitas Mencurigakan
Transaksi tidak biasa sering kali terlihat di divisi operasional atau keuangan sebelum sampai ke compliance. Kolaborasi memastikan informasi tersebut segera diteruskan untuk ditindaklanjuti. - Penguatan Tata Kelola dan Kepercayaan Investor
Kolaborasi antardivisi menciptakan transparansi internal yang menjadi fondasi reputasi bisnis. Investor, auditor, dan regulator akan lebih percaya pada perusahaan yang memiliki mekanisme kerja sama yang solid dalam memitigasi risiko AML.
Peran Tiap Divisi (Legal, Finance, Compliance, IT)
Agar kolaborasi efektif, setiap divisi perlu memahami peran strategisnya dalam sistem AML.
1. Divisi Legal
Divisi hukum berperan memastikan seluruh aktivitas AML perusahaan selaras dengan peraturan yang berlaku baik dari OJK, PPATK, maupun FATF.
Mereka juga memberikan interpretasi hukum terhadap kebijakan internal dan memastikan dokumen pelaporan AML memiliki kekuatan legal.
2. Divisi Keuangan
Tim finance menjadi garda terdepan dalam memantau pola transaksi yang tidak wajar. Misalnya, transfer dana besar tanpa dasar bisnis jelas, atau pembayaran ke rekening luar negeri tanpa kontrak formal.
Kolaborasi dengan compliance sangat penting agar indikasi tersebut tidak terlewat.
3. Divisi Compliance
Inilah pusat koordinasi seluruh kegiatan AML. Tugas utamanya mencakup:
- Menyusun kebijakan dan prosedur AML.
- Melakukan pelatihan rutin ke seluruh karyawan.
- Meninjau laporan transaksi mencurigakan (STR) dan melaporkannya ke PPATK.
Divisi ini juga berperan menjaga agar seluruh aktivitas perusahaan mematuhi prinsip Know Your Customer (KYC) dan Customer Due Diligence (CDD).
4. Divisi IT / Teknologi Informasi
Divisi ini mendukung keberhasilan AML melalui sistem otomatisasi dan keamanan data.
IT mengembangkan fraud detection system, mengintegrasikan data transaksi lintas sistem, dan memastikan keamanan informasi sensitif pelanggan tetap terlindungi.
Kolaborasi antara IT dan compliance sangat krusial untuk memastikan deteksi dini berjalan otomatis dan efisien.
Sistem Komunikasi dan Pelaporan Internal
Kunci kolaborasi efektif adalah sistem komunikasi dan pelaporan yang terstruktur. Berikut beberapa langkah praktis yang dapat diterapkan perusahaan:
1. Membangun Jalur Komunikasi Formal
Setiap temuan atau laporan aktivitas mencurigakan harus disampaikan melalui saluran resmi. Misalnya, email compliance, AML incident form, atau aplikasi pelaporan internal berbasis intranet.
Langkah ini penting agar laporan dapat ditindak secara cepat, terdokumentasi dengan baik, dan tidak menimbulkan kebocoran informasi.
2. Membentuk Komite Koordinasi AML
Komite ini biasanya terdiri dari perwakilan tiap divisi strategis: legal, finance, compliance, IT, dan manajemen risiko.
Rapat rutin dilakukan untuk meninjau hasil audit AML, mengevaluasi risiko baru, serta merancang strategi peningkatan kepatuhan.
3. Pelatihan Internal dan Cross-Functional Workshop
Pelatihan lintas divisi membantu seluruh karyawan memahami bagaimana peran mereka memengaruhi sistem AML secara keseluruhan. Workshop juga menjadi wadah untuk berbagi pengalaman, membahas kasus, dan memperkuat budaya kepatuhan di semua lini organisasi.
4. Penerapan Sistem Pelaporan Terintegrasi
Dengan dukungan teknologi, data dari berbagai divisi bisa dikumpulkan secara otomatis dalam satu dashboard AML.
Contohnya: transaksi dari sistem keuangan, data pelanggan dari CRM, dan hasil pemantauan IT akan langsung terhubung ke platform compliance untuk dianalisis.
Tantangan dan Solusi Koordinasi AML
Implementasi kolaborasi antardivisi sering menghadapi beberapa kendala. Namun, setiap tantangan bisa diatasi dengan pendekatan yang tepat.
1. Silo Data dan Kurangnya Transparansi
Masalah umum adalah setiap divisi memiliki sistem data yang berbeda dan tidak saling terhubung.
Solusinya:
Bangun integrasi antar-platform melalui API atau sistem data warehouse agar semua unit bisa mengakses informasi yang relevan tanpa harus memindahkan data manual.
2. Komunikasi yang Tidak Efektif
Terlalu banyak rantai komunikasi menyebabkan informasi penting terlambat sampai ke tim compliance.
Solusinya:
Tetapkan protokol komunikasi yang jelas dan hierarki pelaporan yang ringkas, misalnya semua laporan AML langsung ditujukan ke komite AML.
3. Rendahnya Kesadaran AML di Divisi Non-Compliance
Divisi selain compliance sering merasa program AML bukan tanggung jawab mereka.
Solusinya:
Bangun awareness program dengan contoh nyata bagaimana kelalaian satu divisi dapat berakibat pada sanksi hukum atau reputasi perusahaan.
4. Ketergantungan pada Proses Manual
Proses audit dan pelaporan manual sering memperlambat deteksi kasus.
Solusinya:
Gunakan sistem digital seperti AI-based transaction monitoring, fraud analytics, atau regtech solutions yang membantu memonitor ribuan transaksi secara real-time.
5. Koordinasi Internasional dalam Grup Perusahaan
Bagi perusahaan multinasional, regulasi AML berbeda di tiap yurisdiksi.
Solusinya:
Bentuk global compliance committee untuk menyusun kebijakan umum, lalu adaptasikan secara lokal sesuai peraturan negara masing-masing.
Contoh Praktik Terbaik di Industri Keuangan
Beberapa perusahaan di sektor perbankan dan fintech telah menunjukkan hasil luar biasa berkat kolaborasi lintas divisi dalam AML.
1. Bank Mandiri: Integrasi Data Transaksi dan Compliance
Bank Mandiri menerapkan sistem AML berbasis AI yang menggabungkan data transaksi, profil nasabah, dan hasil audit internal dalam satu platform.
Kolaborasi erat antara divisi IT, compliance, dan finance membantu mempercepat proses deteksi STR hingga 40%.
2. DBS Bank: Budaya Kepatuhan yang Inklusif
DBS menekankan bahwa AML bukan hanya tanggung jawab compliance, tetapi seluruh karyawan.
Setiap divisi memiliki indikator kinerja terkait kepatuhan AML, dan komunikasi dilakukan melalui aplikasi pelaporan internal yang mudah digunakan.
3. Fintech GoPay: Otomatisasi dan Monitoring Transaksi Mikro
Dengan volume transaksi tinggi, GoPay membangun sistem otomatis berbasis machine learning untuk mengidentifikasi pola mencurigakan.
Kolaborasi antara IT, compliance, dan risk management membuat pelaporan ke regulator menjadi lebih cepat dan akurat.
Kesimpulan: Kolaborasi = Pondasi Kuat Program AML
Kolaborasi antardivisi adalah kunci sukses keberhasilan program Anti-Money Laundering (AML). Ketika legal, compliance, finance, IT, dan manajemen risiko bekerja dalam satu arah, perusahaan tidak hanya mematuhi regulasi tetapi juga menciptakan ekosistem bisnis yang transparan, aman, dan dipercaya investor.
Dengan sistem komunikasi yang efektif, dukungan teknologi modern, serta budaya kepatuhan yang menyeluruh, organisasi dapat mencegah risiko hukum, meningkatkan reputasi, dan menjaga integritas finansialnya di tengah persaingan global.
Tingkatkan kompetensi Anda dalam kepatuhan dan pencegahan pencucian uang dengan mengikuti berbagai pelatihan dan workshop profesional kami. Dapatkan wawasan terbaru tentang regulasi AML, KYC, dan CDD yang relevan untuk industri Anda. klik tautan ini untuk melihat jadwal terbaru dan penawaran spesial.
Referensi:
- Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Panduan Umum Penerapan Program Anti Pencucian Uang dan Pencegahan Pendanaan Terorisme (APU-PPT), 2023.
- PPATK (Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan). Pedoman Pelaporan Transaksi Keuangan Mencurigakan (STR), 2024.
- FATF (Financial Action Task Force). International Standards on Combating Money Laundering and the Financing of Terrorism & Proliferation, 2023.
- Deloitte. Strengthening AML Collaboration Across Functions: Global Best Practices, 2022.
- PwC. Building an AML Culture through Cross-Functional Synergy, 2023.